BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masalah
Penggunaan alat-alat kebersihan mulut
telah dimulai semenjak berabad-abad lalu.Manusia terdahulu menggunakan
alat-alat kebersihan yang bermacam-macam seiring dengan perkembangan social,
Teknologi dan Budaya. Beranekaragam peralatan sederhana dipergunakan untuk memebersihkan mulut
mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, Batang kayu, Ranting
kayu, Kain, Bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara
peralatan tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan Gigi adalah
kayu siwak atau chewing stick. Kayu
ini walaupun Tradisional, merupakan langkah pertama transisi/peralihan kepada
sikat gigi modern dan merupakan alat pembersih mulut terbaik hingga saat ini.
Miswak (Chewing Stick ) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak 7000
tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Islam.
Siwak memiliki nama lain di setiap komunitas seperti misalnya di Timur
tengah disbut dengan Miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut Miswak dan di
Pakistan dan di India disebut dengan datan atau Miswak. Penggunaan Chewing stick (kayu kunyah) berasal dari
tanaman yang berbeda-beda pada setiap Negeri.
Meskipun siwak sebelumnya telah
digunakan dalam berbagai macam kultur dan Budaya di Seluruh dunia, namun
pengaruh penyebaran Agama Islam dan penerapannya untuk membersihkan gigi yang
paling berpengaruh. Istilah siwak sendiri pada kenyataannya telah umum dipakai
selama masa kenabian nabi Muhammad yang memulai misinya sekitar 543 Masehi.
Nabi Muhammad SAW bersabda : “ seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya
akan ku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan Sholat(dalam riwayat lain
: setiap akan berwudlu’).” Nabi memandang kesehatan dan kebersihan Mulut adalah
penting, sehingga beliau senantiasa menganjurkan pada istrinya untuk selalu
menyiapkan siwak untuknya hingga akhir hayatnya.
Siwak terus digunakan hampir di seluruh
bagian Timur tengah, Pakistan, Nepal, India, Afrika dan Malaysia Khususnya di
daerah pedalaman. Sebagian besar mereka menggunakannya karena faktor Religi,
budaya dan sosial. Ummat Islam di timur tengah dan sekitarnya menggunakan Siwak
minimal lima kali sehari, disamping mereka juga menggunakan sikat gigi biasa.
Penelitian yang dilakukan oleh Erwin dan Lewis (1989) menyatakan
bahwa pengguna Siwak memeiliki relativitas yang rendah dijangkiti kerusakan dan
penyakit gigi meskipun Mereka mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat. Selain itu, Hasil penelitian oleh Al-Lafi dan
Ababneh (1995) terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa siwak mengandung
mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta
memelihara gusi, siwak memiliki kandungan kimiawi seperti : Anti bacterial acids, Minyak aroma alami, dan
kandungan kimia lain yang bermanfaat.
Manfaat
siwak juga banyak seperti penelitian yang dilakukan oleh Eka putri any sihotang
untuk Skripsi Departemen Biologi oral Fakultas kedokteran Gigi Universitas
Sumatra Utara Medan tahun 2007 yang menyatakan bahwa siwak banyak memiliki
manfaat bagi gigi seperti mencegah Karies pada Gigi. Selain itu siwak juga
bermanfaat untuk membersihkan mulut, membersihkan gusi, mencegah
pendarahan, menguatkan penglihatan, mencegah gigi berlubang. Dari pemaparan tersebut
di atas, penulis tertarik untuk menulis paper dengan judul : “Kandungan Kimia
Dalam Siwak Dan Manfa’at Siwak.”
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian dari Siwak ?
2.
Zat
kimia apa saja yang terkandung dalam Siwak ?
3.
Apa Pengaruh kandungan kimia siwak terhadap
kesehatan mulut ?
4.
Apa
Manfa’at menggunakan Siwak ?
5.
Bagaimana cara menggunakan Siwak ?
C.
Tujuan dan Manfa’at penulisan
Tujuan dan
manfaat penulisan paper ini adalah memenuhi target dan keinginan yang di capai
oleh penulis, yang pertama adalah sebagai persyaratan lulus dalam proses
pembelajaran di MA. Manba’ul hikam tahun 2012-2013. Yang kedua, Tujuan dan
manfa’at dari penulisan paper ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa itu siwak dan
dari mana siwak diperoleh.
2. Untuk mengetahui zat-zat kimia apa
saja yang terkandung dalam siwak.
3. Untuk mengetahui Pengaruh kandungan
kimia siwak terhadap kesehatan mulut
4. Untuk
mengetahui manfa’at penggunaan siwak.
5. Untuk
mengetahui bagaimana cara menggunakan siwak yang benar seperti Rasulullah SAW.
D.
Metode Penelitian
Dalam penulisan paper ini, penulis
menggunakan metode berupa kajian pustaka
berdasar informasi-informasi dari internet tentang zat-zat kimia yang terkandung dalam siwak dan
manfaatnya.Penulis juga mencari informasi dari buku-buku penunjang dan library
research.
E.
Sistematika
Penulisan
Agar penulisan paper
ini berjalan sesuai, penulis mengumpulkan sistematika penulisan menjadi 4 bab, yang akan diuraikan sebagai berikut:
BAB
I : PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
B. Rumusan
Masalah
C. Tujuan
dan Manfaat Penelitian
D. Metode
Penelitian
E. Sistematika
Pembahasan
BAB
II : SIWAK
A. Sejarah
Penggunaan Siwak
B. Morfologi
dan Habitat Pohon Siwak
BAB III :KANDUNGAN KIMIA DALAM SIWAK
A. Mineral
Alami dalam Siwak
B. Kandungan
Anti Microbial
C. Kandungan
Anionic dalam Siwak
BAB
IV :PENGARUH KANDUNGAN KIMIA SIWAK
A. Efek
Kandungan
Kimia Siwak terhadap Kesehatan Mulut
B. Manfaat
menggunakan Siwak
Sebagai Alat Pembersih Mulut
C. Waktu
untuk Bersiwak dan Cara Menggunakan Siwak seperti Rasulullah. SAW
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
BAB II
SIWAK
A. Morfologi
dan habitat Pohon Siwak
Siwak
atau miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh
di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil
dari akar dan ranting tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter
mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti
belukar dengan batang yang bercabang-cabang, dengan diameter pohon sekitar 30
cm. Jika kulitnya dikelupas berwarna agak keputihan dan memiliki banyak
juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya
seperti seledri dan rasanya agak pedas.
Berikut
gambar pohon arak (Salvadora persica) yang berada di kawasan Timur
Tengah(GB.1.1) dan gambar ranting yang sudah dipotong lalu di berus seperti
bulu sikat gigi yang sudah siap pakai(GB.1.2)
(GB
1.1 pohon salvadora ) (GB. 1.2 siwak yang siap digunakan)
Siwak
berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak sendiri
berasal dari bahasa arab ‘yudlik’
yang artinya adalah memijat (massage). Siwak lebih dari sekedar sikat
gigi biasa, karena selain memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak
gigi walaupun di bawah tekanan yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami
antimikrobial dan antidecay system. Batang
siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi
untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat dan dapat mengikis plak pada
gigi.Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.
Penggunaan
chewing stick (kayu kunyah) berasal
dari tanaman yang berbeda-beda pada setiap negeri. Di Timur Tengah, sumber
utama yang sering digunakan adalah pohon Arak (Salvadora persica), di
Afrika Barat yang digunakan adalah pohon limun (Citrus aurantifolia) dan
pohon jeruk (Citrus sinesis). Akar tanaman Senna (Cassiva vinea)
digunakan oleh orang Amerika berkulit hitam, Laburnum Afrika (Cassia
sieberianba) digunakan di Sierre Leone serta Neem (Azadirachta indica)
digunakan secara meluas di benua India. pohon siwak dapat di klasifisikan
sebagai berikut:
·
Divisio
: Embryophyta
·
Sub
Divisio : Spermatophyta
·
Class
: Dicotyledons
·
Sub
Class : Eudicotiledons
·
Ordo
: Brassicales
·
Family
: Salvadoraceae
·
Genus
: Salvadora
·
Spesies
: Salvadora persica
B. Sejarah
penggunaan Siwak
Siwak atau miswak sudah digunakan orang zaman dahulu
untuk membersihkan mulut, Miswak (Chewing Stick ) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak 7000
tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Islam.
Siwak memiliki nama lain di setiap komunitas seperti misalnya di Timur
tengah disebut
dengan Miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut Miswak dan di Pakistan dan
di India disebut dengan datan atau Miswak. Penggunaan Chewing stick (kayu kunyah) berasal dari tanaman yang berbeda-beda
pada setiap daerah.
Meskipun
siwak sebelumnya telah digunakan dalam berbagai macam kultur dan Budaya di
Seluruh dunia, namun pengaruh penyebaran Agama Islam dan penerapannya untuk
membersihkan gigi yang paling berpengaruh. Istilah siwak sendiri pada
kenyataannya telah umum dipakai selama masa kenabian nabi Muhammad yang memulai
misinya sekitar 543 Masehi. Dalam hadits disebutkan Rasulullah SAW biasa
menggosok giginya dengan siwak setiap bangun dari tidur. Hudaifah RA
meriwayatkan: “Kapan pun Rasulullah SAW bangun dari tidur, ia akan menggosok
giginya dengan siwak.” (HR Bukhari dan Muslim). Selain setelah bangun tidur,
dalam hadits lainnya Nabi Muhammad SAW juga biasa membersihkan giginya dengan
siwak sesaat sebelum berwudhu. Aisyah RA meriwayatkan: “Kami biasa menyiapkan
sebuah siwak dan air untuk wudhu bagi Rasulullah SAW kapan pun Allah
menghendaki beliau bangun dari tidur malam, beliau akan mebersihkan giginya
dengan siwak, mengambil wudhu, dan lalu mendirikan shalat.” (HR Muslim).
Bahkan
dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW secara khusus menyarankan umatnya untuk
menggunakan siwak. Anas RA meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda, “Aku menyaran
agar kalian menggunakan siwak”. (HR Bukhari). Siwak merupakan alat pembersih
gigi yang diwariskan Rasulullah SAW bagi umatnya. Bukan tanpa alasan Rasulullah
SAW menyarankan umatnya untuk menggunakan siwak berbentuk batang yang diambil
dari akar dan ranting segar tanaman arak (salvadora persica). Sebuah penelitian
ilmiah pada tahun 2003 membuktikan keunggulan siwak dibandingkan pasta gigi
biasa.
BAB III
KANDUNGAN
KIMIA DALAM SIWAK
A. Mineral
Alami dalam Siwak
Batang kayu
siwak mengandung banyak sekali zat kimia yang sangat bermanfaat bagi kesehatan
mulut maupun gigi manusia, yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan
bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, meliputi :
- Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tersebut.
- Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.
- Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.
- Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.
Secara Kimiawi, kulit batang kayu
siwak yang kering bila diekstrak dengan alkohol 80% dan kemudian diekstrak
dengan ether, lalu diteliti secara terperinci kandungannya melalui ECP (Exhaustive Procedure Chemicle), maka
akan ditemukan zat-zat kimia sebagai berikut : Trimetilamin, chloride,
resin, sejumlah besar fluoride dan silica, sulfur dan vitamin C. Penelitian
kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan
sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin
dan resin. Kemudian ditemukan juga kandungan silika, sulfur dan vitamin C.
Kandungan kimia tersebut sangat
bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C
membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi.Klorida bermanfaat untuk
menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai
penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya
yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah
terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya
terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri. Siwak kaya dengan fluorida dan
silika, fluorida mengerahkan proses antikariogenik
dengan cara sebagai berikut :
- Perubahan hydroxypatite menjadi fluorapatite yang lebih tahan terhadap acid dissolution.
- Bercampurnya acidogenic organisme di dalam plak gigi sehingga mengurangi pH dari plak gigi.
- Membantu memulihkan kembali gigi yang baru rusak.
- Membentuk efek penghambat terhadap pertumbuhan bakteri pada plak gigi.
Adapun silika berfungsi membantu
membersihkan gigi karena silika bekerja sebagai bahan penggosok yang dapat
menghilangkan noda.
B. Kandungan
Anti mikrobial Siwak
El-Mostehy dkk (1998) melaporkan
bahwa tanaman siwak mengandung zat-zat antibakterial.arout
et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan efek pembersih pada miswak
telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat terdeteksi pada
ekstraknya. Efek ini dipercaya berhubungan dengan tingginya kandungan Sodium
Klorida dan Pottasium Klorida seperti salvadourea
dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin
C, silika dan resin, juga cyanogenic
glycoside dan benzylsothio-cyanate.
Hal ini dilaporkan bahwa komponen anionik alami terdapat pada spesies tanaman
ini yang mengandung agen antimikrobial yang melawan beberapa bakteri.
Menurut
penelitian Tubaishat dkk. Pada tahun 2005 komposisi siwak mempunyai efek
sebagai berikut :
1.
flour
Berfungsi untuk
memperkuat enamel gigi, mendukung remineralisasi jaringan sehingga mencegah
terjadinya karies gigi. Ion flour juga membentuk penghambat terhadap
pertumbuhan bakteri pada plak gigi.
2.
Silika
Membantu membersihkan
gigi disebabkan aksi dari bahan abrasifnya dalam menyingkirkan stain dan
memiliki efek memutihkan gigi serta memiliki efek analgesik yang dapat
menghilangkan rasa sakit pada daerah saraf tepi.
3.
Alkaloid
Memiliki rasa yang
pahit dan bersifat basa serta berefek bakteriosidal dan anti inflamasi dan
dapat menyembuhkan sariawan dan memiliki sifat analgesik pada saraf tepi.
4.
Resin
Merupakam produk
amarphous yang membentuk lapisan pelindung untuk mencegah karies gigi serta
memberikan efek astringen pada mukosa mulut.
5.
Tannin
Memberikan efek astringent
pada mukosa mulut yang dapat gingiva dari sakit karena dapat menibulkan
presipitasi protein pada daerah permukaan sebab mempunyai daya penetrasi yang
kecil, sehingga dapat menurunkan permeabilitas sel tanpa mengganggu keutuhan
fungsi membran. Dapat melapisi enamel dan melindungi gigi terhadap karies.
Tannin memiliki efek analgesik dan fungisid yang lemah karena dengan
strukturnya yang terurai menjadi fenol – fenol yang dpat mengendapkan protein.
Trimetilamin
6. Memiliki
efek analgesik yang bekerja pada saraf tepi, dapat menghilangkan karang gigi
dan stain,selain itu dapat juga sebagai anti bakteri,anti inflamasi dan gingiva stimulating
7.
Vitamin C
Dapat mengatasi atau
menghentikan pendarahan pada gingiva, menjaga gingiva lebih rentan terhadap
iritasi dan karang gigi
8.
Sulfur
Mempunyai kemampuan
melindungi gigi dari bakteri kariogenik dan produk – produk bakteri , bersifat
antiseptik dan fungisid
9.
Saponin
Mempunyai sifat seperti
sabun yang dapat melarutkan kotoran, bersifat sebagai pelumas dan memiliki daya
anti mikroba. Juga dapat diketahui memiliki efek analgesik pada daerah saraf
tepi.
10.
Flavenoid
Dapat menguatkan atau
membangun jaringan lunak pada gingiva dan dapat
mengurangi inflamasi
11.
Sterol
Dapat
mengurangi penumpukan plak dan memiliki efek analgesik yang bekerja pada daerah
saraf tepi
C. Kandungan
Anionic Siwak
Komponen anionik antibakterial lainnya terdapat pada
beberapa spesies tanaman adalah sulfat (SO42-), klorida
(Cl-) dan tiosianat (SCN-).Tiosianat (SCN-)
bertindak sebagai substrat untuk laktoperoksidase
untuk membangkitkan hipotiosianit (OSCN-) dengan keberadaan hidrogen
peroksida. OSCN- telah ditunjukkan bereaksi dengan kelompok
sulfahidril di dalam enzim bakteri yang berubah menjadi penyebab kematian
bakteri. Ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan
kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya dan efeknya terhadap komposisi bakteri
yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram negatif batang.
Sebuah penelitian tentang perbandingan pengaruh antara
ekstrak siwak dengan Chlorhexidine
Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur dan zat anti
plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy).
Hasilnya dilaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang
sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan
lapisan noda-noda (Smear layer) pada
dentin.
Zat antimikrobial dan efek pembersih
pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat
terdeteksi pada ekstraknya. Efek
ini dipercaya berhubungan dengan tingginya kandungan Sodium Klorida dan
Pottasium Klorida seperti salvadourea
dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin
C, silika dan resin, juga cyanogenic
glycoside dan benzylsothio-cyanate.
Hal ini dilaporkan bahwa komponen anionik alami terdapat
pada spesies tanaman ini yang mengandung agen antimikrobial yang melawan
beberapa bakteri.Nitrat (NO3-) dilaporkan mempengaruhi
transportasi aktif porline pada Escherichia
coli seperti juga pada aldosa dari E. coli dan Streptococcus faecalis. Nitrat juga mempengaruhi transport aktif
oksidasi fosforilasi dan pengambilan oksigen oleh Pseudomonas aeruginosa dan Stapyhylococcus
aureus sehingga terhambat.
Komponen anionik antibakterial lainnya terdapat pada
beberapa spesies tanaman adalah sulfat (SO42-), klorida
(Cl-) dan tiosianat (SCN-).Tiosianat (SCN-)
bertindak sebagai substrat untuk laktoperoksidase untuk membangkitkan
hipotiosianit (OSCN-) dengan keberadaan hidrogen peroksida. OSCN-
telah ditunjukkan bereaksi dengan kelompok sulfahidril di dalam enzim bakteri
yang berubah menjadi penyebab kematian bakteri.
Ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang
dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat anti plaknya dan efeknya terhadap
komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram
negatif batang.
Sebuah penelitian tentang perbandingan pengaruh antara
ekstrak siwak dengan Chlorhexidine
Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur dan zat anti
plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning
Electron Microscopy). Hasilnya dilaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX
0,2% memiliki efek yang sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih
banyak menghilangkan lapisan noda-noda (Smearlayer)
pada dentin.
BAB IV
KANDUNGAN
KIMIA DALAM SIWAK
A.
Pengaruh
Kandungan
Kimia
Siwak
terhadap Kesehatan
Mulut
Siwak sangat berpengaruh pada kesehatan
mulut.Pengaruh tersebut tidak hanya dikarenakan penggunaan siwak secara
langsung. Namun, larutan siwak yang digunakan berkumur juga mempengaruhi kesehatan
mulut. Hal ini dapat dibuktikan dengan penelitihan oleh Nila Kusumasari (
program pendidikan sarjana kedokteran universitas diponegoro 2012) tentang
pengaruh larutan kumur ekstrak siwak terhadap pH saliva. Dalam penelitiannya
menyebutkan bahwa Keasaman (pH) saliva merupakan salah satu faktor penting yang
dapat mempengaruhi proses terjadinya demineralisasi pada permukaan gigi. Perubahan
pH saliva dipengaruhi oleh susunan kuantitatif dan kualitatif elektrolit dan
kapasitas buffer di dalam saliva. Dalam keadaan normal,
pH saliva berkisar antara 6,8-7,2. Sisa
Karbohidrat yang tertinggal di dalam rongga mulut akan difermentasikan oleh
bakteri patogen rongga mulutseperti
Streptococcus mutans sehingga dihasilkan asam yang akan menurunkan pH
saliva.
Hasil penelitian ini yang dilakukan
terhadap 74 santri di pondok pesantren Hidayatullah yayasan Al-Burhan,
Gedawang, Semarang, menunjukkan bahwa larutan ekstrak siwak pada kadar 25%
dengan alkohol sebabagai pelarut, dapat meningkatkan pH saliva. Pernyataan tersebut
ditunjukkan dengan pH saliva pada kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok kontrol.
Kemampuan ekstrak siwak dalam
meningkatkan pH saliva ditunjukkan melalui komponen kimia yang dikandungnya,
yaitu : minyak esensial yang dapat merangsang aliran saliva, oleh karena
peningkatan laju aliran saliva berbanding lurus dengan peningkatan pH saliva.
Selain itu, terdapat kandungan bikarbonat yang berfungsi sebagai komponen untuk
mempertahankan sistem buffer dalam
rongga mulut. Hasil ini ditunjang penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Nadir Babay dan Khalid Almas yang menyimpulkan bahwa larutan ekstrak siwak
dengan pelarut alkohol lebih banyak menghilangkan smear layer pada permukaan
dentin dibandingkan dengan ektrak siwak dengan pelarut saline maupun aquades. Kemampuan larutan
ekstrak siwak dalam mencegah penurunan pH rongga mulut terutama pH saliva pada
hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Endarti,
Fauzia, Zuliana pada tahun 2007 yang menunjukkan bahwa kandungan minyak
esensial di dalam siwak dapat merangsang aliran saliva, sehingga penurunan pH
plak dapat dihambat karena di dalam saliva ditemukan adanya buffer bikarbonat
yang merupakan pertahanan efektif terhadap produksi asam dari bakteri
kariogenik. Sofrata et al. melalui penelitiannya menemukan bahwa berkumur
dengan larutan ekstrak siwak dapat meningkatkan pH plak dibandingkan dengan
berkumur dengan aquades.
Kandungan minyak esensial pada siwak
dapat meningkatkan sekresi serta menambah jumlah produksi dari saliva.
Peningkatan kecepatan sekresi saliva akan meningkatkan kadar natrium dan
bikarbonat. Bikarbonat mempertahankan sistem buffer dalam rongga mulut,
sehingga dapat mempertahankan keasaman (pH). Tiosianat (SSCN-) akandioksidasi hidrogen peroksida dari bakteri Streptococcus mutans sehingga menghasilkan
hipotiosianat (OSCN-) yang menghambat metabolisme bakteri dengan
cara membloking transport gula sehingga akan mengurangi jumlah asam yang
dihasilkan bakteri. Tanin mengurangi perlekatan bakteri pada permukaan gigi
dengan menghambat enzil glukosil transferase yang diproduksi oleh S. mutans. Trimetilamin mengurangi terjadinya
adesi pada permukaan gigi. Enzim lisozim pada saliva akan memecah dinding sel
bakteri sehingga perkembangan bakteri tersebut dapat terhambat, hal ini akan
menghambat produksi asam yang dihasilkan dari proses fermentasi karbohidrat dalam
rongga mulut.
B.
Manfa’at Siwak
bagi kesehatan mulut
Setelah mengetahui kandungan senyawa
kimia dalam siwak, maka manfa’at dari siwak pun sangat banyak sekali, dapat
dikatakan bahwa siwak juga dapat digunakan untuk tujuan terapi. Setiap
kali Miswak digunakan, baik gigi dan lidah dibersihkan. Ini juga telah digunakan
untuk mengobati sakit gigi. Miswak telah menggunakan berbagai terapi, seperti
manfaat terkenal dari sari tongkat.
diekstraksi pada mengunyah (ekstrak
antibakteri) dan aspek fungsional mengunyah sebagai berolahraga rahangmenyusul
cedera traumatis pada sendi rahang dan temporomandibular,
serta Sialogogue - sebuah reflex.
induksi air liur berlebihan - yang
bermanfaat bagi kesehatan gigi dan kesehatan umum. Miswak seringdigunakan untuk
mencegah kebiasaan oral seperti merokok pada orang dewasa dan mengisap ibu jari
pada anak-anak. Hal ini juga dapat digunakandalam pengembangan gigi selama
eruption. Ini dapat meningkatkan nafsu makan dan mengatur peristaltic pergerakan
gastro-intestinal.
Berikut Terapi aplikasi tentang Miswak :
1)
Pasta gigi
Beberapa
pasta gigi komersial dikenal dihasilkan dari tanaman Salvadora persica adalah:
sarkan pasta gigi di Inggris, menyebutkan statusnya-Meswak gigi-paste, di
Swiss, Epident pasta gigi di Mesir, Siwak-F pasta gigi, di Indonesia, Fluoroswak,
Miswak, di Pakistan. Dentacare Miswak
Plus.
2)
Obat kumur
Mustafa
menemukan pengurangan pembentukan plak
oleh Miswak berbasis obat kumur. Tapi tidak seperti persiapan saat ini ada di
pasar.
3)
Endodontik irigasi solusi
Meskipun aktivitas antimikroba dari
Miswak telah dilaporkan, toksisitasnya harus dipertimbangkan. Selain itu,
laporan belum ada belum dilakukan pada pemanfaatan ekstrak sebagai suatu
irrigant solusi dalam praktek endodontik. Abo Al Samh, dievaluasi, efek yang
berbeda konsentrasi ekstrak Miswak pada sel line dalam kultur jaringan dan
membandingkan hasilnya dengan natrium hipoklorit (NaOCI). Mereka menemukan
perubahan konsentrasi morfologi tergantung dari sel-line bila terkena Miswak
ekstrak dan NaOCI. Mereka menduga pemulihan sel setelah 4 jam paparan periode
untuk konsentrasi ekstrak Miswak yang berbeda.
4)
Plak reduksi
Beberapa penelitian
telah melaporkan pada efektivitas pembersihan tongkat mengunyah.
Cross-sectional studi menunjukkan hasil yang bertentangan. Sebuah studi
cross-sectional di antara orang dewasa Ghana mengungkapkan plak yang lebih
tinggi dan perdarahan gingiva pada pengguna tongkat mengunyah dibandingkan
dengan pengguna sikat gigi.
Dalam kitab
Ath-Thubbun Nabawi (Medis Nabawi) yang disusun oleh Ibnul Qoyyim dijelaskan
manfaat siwak antara lain : membersihkan mulut, membersihkan gusi, mencegah
pendarahan, menguatkan penglihatan
- mencegah gigi berlubang
- menyehatkan pencernaan
- menjernihkan suara
- membantu pencernaan makanan
- memperlancar saluran nafas (bicara)
- menggiatkan bacaan
- menahan tidur
- meridhokan Allah Ta’ala
- dikagumi malaikat
- mencegah gigi berlubang
- menyehatkan pencernaan
- menjernihkan suara
- membantu pencernaan makanan
- memperlancar saluran nafas (bicara)
- menggiatkan bacaan
- menahan tidur
- meridhokan Allah Ta’ala
- dikagumi malaikat
Perlu di ketahui juga mengenai Bersiwak yakni Satu kali anda bertasbih
kepada Allah dengan diawali siwak, maka dihitung 70X bertasbih. Shalat dengan
diawali siwak, akan terhitung 70X shalat. Dua rakaat shalat tahajjud diawali
dengan siwak, maka dihitung 140 rakaat tahajjud.
C.
Waktu
untuk bersiwak dan Cara menggunakan Siwak seperti Rasulullah.SAW
Siwak juga memiliki waktu-waktu tertentu
untuk menggunakannya seperti yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW. Waktu-waktu
tersebut adalah :
1. Setiap
akan shalat dan wudhu
Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
“Seandainya aku tidak memberatkan umatku
niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak tiap kali berwudhu.”
2. Ketika
masuk rumah
Syuraih bin Hani` pernah bertanya kepada
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Apa yg mulai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
lakukan apabila beliau masuk rumah?” Aisyah
menjawab: ‘Beliau mulai dengan bersiwak’.”
3. Saat
bangun tidur di waktu malam
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu
berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam apabila bangun di waktu malam beliau menggosok mulut dgn siwak.”
4. Ketika
hendak membaca Al-Qur`an
Dengan
dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
السِّوَاكُ مَطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِ
“Siwak itu membersihkan mulut
diridhai oleh Ar-Rabb.”
5. Saat
bau mulut berubah
Perubahan bau mulut bisa terjadi krn
beberapa hal. Di antaranya: karena tidak makan dan minum, karena memakan
makanan yg memiliki aroma menusuk/tak sedap diam yg lama/tak membuka mulut utk
berbicara banyak berbicara dan bisa juga karena lapar yg sangat demikian pula
bangun dari tidur.
Sebelum menggunakan Siwak atau Miswak, perlu diketahui cara atau
langkah-langkah yang baik untuk menggunakan Siwak atau Miswak karena Miswak
tersedia dalam berbagai diameter dan panjang dan dapat dipotong menjadi lebih
panjang sesuai dengan pengguna. Sebuah panjang 20 cm untuk orang dewasa dan 15
cm untuk anak-anak dianjurkan untuk kenyamanan pegangan dan kemudahan untuk
menggunakannya.
Adapun cara sebelum menggunakan siwak/miswak itu sendiri adalah sebagai
berikut;
1. Batang atau cabang siwak dipotong berukuran pensil dengan
panjang 15-20 cm. Stick kayu siwak ini dapat dipersiapkan dari akar, tangkai,
ranting, atau batang tanamannya. Stick dengan ukuran diameter 1 cm dapat
digigit dengan mudah dan memberikan tekanan yang tidak merusak gusi apabila
digunakan.
2. Kulit dari stick siwak ini dihilangkan atau dibuang hanya
pada bagian ujung stick yang akan dipakai saja.
3. Siwak yang kering dapat merusak gusi, sebaiknya direndam
dalam air segar selama 1 hari sebelum digunakan. Selain itu, air tersebut juga
dapat digunakan untuk kumur-kumur.
4. Bagian ujung stick siwak yang sudah dihilangkan kulit
luarnya digigit-gigit atau dikunyah-kunyah sampai berjumbai seperti berus.
5. Bagian siwak yang sudah seperti berus digosokkan pada
gigi, dan bisa juga digunakan untuk membersihkan lidah.
Cara Rasulullah SAW ketika menggunakan Siwak adalah
sebagai berikut :
- Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah: “Allahumma thahhir bissiwaak Asnaaniy, wa qawwiy bihi Litsaatsiy, wa afshih bihi lisaniy“, yang artinya “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dg siwak, dan kuatkanlah Gusi gusiku, dan fashih kan lah lidahku”;
- Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari dibawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.
- Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah.
- Langkah ke-3 di atas dilakukan 3x putaran;
- Selesai bersiwak, mengucapkan hamdalah, “Alhamdulillah“.
BAB
V
PENUTUP
Demikian laporan ini dan penulis
mengucapkan banyak terima kasih pada pihak yang banyak membantu dalam
penyusunan paper ini, sehingga penulis dapat menyelesaikannya. Karena
keterbatasan penulis, maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
dibutuhkan dari pembaca untuk
kesempurnaan paper ini.
A. KESIMPULAN
Dari
data-data yang sudah terkumpul dapat disimpulkan, antara lain :
1.
Siwak adalah pembersih mulut yang biasa
digunakan oleh orang timur yang diperoleh dari ujung akar atau batang dari
pohon salvadora persica.
2.
Di dalam siwak, banyak terdapat zat yang
sangat bermanfa’at seperti kandungan mineral alami, kandungan anionic, dan
kandungan anti microbial.
3.
Pengaruh siwak terhadap kesehatan mulut
dan gigi adalah dapat meningkatkan pH saliva di dalam mulut, dan menyehatkan.
4.
Manfa’at dari siwak sangat banyak
sekali, di antaranya : membersihkan mulut, membersihkan gusi, membantu
pencernaan, dan menajamkan penglihatan.
B. Saran-saran
Setelah menguraikan sedikit tentang
seluk beluk tentang kandungan kimia siwak dan manfa’at siwak mendapatkan
kesimpulan, maka penulis menyarankan :
1.
Meskipun
sudah ada alat pembersih mulut yang canggih dan praktis, gunakanlah juga siwak
sebagai alat pembersih mulut karena manfa’atnya lebih banyak dari pada pasta
gigi.
2.
Sebelum
menggunakan siwak, cermatilah cara-cara menggunakannya yang baik dan benar agar
tidak menimbulkan luka disekitar mulut, karena siwak yang tidak diberus atau
dilunakkan, dapat memberi luka pada gusi ataupun mulut.
3. Miswak
dapat menjadi alternatif yang baik untuk sikat gigi karena murah, dan mudah tersedia.
Miswak mengandung sifat obat banyak, dan tersedia di sebagian besar wilayah
pedesaan orang miskin negara. Itu tidak membutuhkan keahlian atau sumber daya
tambahan untuk memproduksi itu. Oleh karena itu direkomendasikan sebagai alat
yang penting dan efektif untuk kesehatan mulut.
4. Dokter
gigi yang praktek di daerah di mana tongkat mengunyah biasanya digunakan harus
menyadari bahwa pasien mungkin memerlukan petunjuk khusus tentang cara-cara
yang tepat untuk menggunakan tongkat mengunyah.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Mengenal kayu siwak. (online). (http://www.smallcrab.com/kesehatan/519-mengenal-kayu-siwak,
dikses
tanggal 30 Desember 2012 )
Fansrosul. 2010. Cara bersiwak rasulullah SAW. (online).(http://cara-muhammad.com/perilaku/cara-bersiwak-rasulullah-saw/, diakses tanggal
3 maret 2013)
Kumala, Sari. 2012.
Pengaruh larutan kumur ekstrak siwak. Diponegoro : Program pendidikan
sarjana kedokteran fakultas kedokteran universitas diponegoro.
Putri any
sihotang, eka. 2007. Efektifitas
antimicrobial ekstrak kayu siwak terhadap pertumbuhan strepkokus mutans pada karies
gigi. Medan : departemen Biologi Oral Fakultas kedokteran gigi universitas
Sumatera Utara.
Ruslan, Heri. 2012. SIWAK salvadora persica. (online).(http://www.grosir-surabaya.com/simplisia/173-siwak-salvadora-persica.html,
diakses tanggal 25 Desember 2011)
Zaenab, dkk. 2004. Uji Antibakteri Siwak (Salvadora persica Linn.) terhadap Streptococcus mutans (ATC31987) dan Bacteroides
melaninogenicus
Jurusan Farmasi, FMIPA, Institut Sains dan Teknologi Nasional. Jakarta: Departmen
Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia,.